Tampilkan postingan dengan label BIO. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BIO. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Oktober 2013

Biosintesa

BIOSINTESA

Biosintesa sebagai salah satu kegiatan jasad hidup di dalam metabolism, berbeda dengan nutrisi, karena disini diperlukan sumber energi. Karenanya proses bioenergi dan biosintesa tidak dapat dipisahkan karena kedua-duanya merupakan kesatuan proses. Selama berlangsungnya proses bioenerji tidak hanya menghasilkan energi bagi berlangsungnya biosintesa, melainkan juga senyawa yang akan menjadi bahan dasar bagi proses biosintesa seperti gula-fosfat, asam furivat, asam asetat, asam oksalasetat, asam suksinat, dan sebagainya.

1.      Assimilasi nitrogen dan sulfat

Bahan-bahan organik yang mengandung N, P, dan S umumnya didaptkan dari sumber anorganik. Assimilasi sumber tersebut membentuk anorganik merupakan langkah awal didalam biosintesa. Pada assimilasi nitrogen misalnya dari senya anorganik (NH4+ , NO3- , N2 dan sebagainya), bisa digabung langsung dengan asam ketoglutamat yang merupakan hasil antara di dalam siklus kreb:

Asam ketoglutamat → Asam glutamat → Glutamin
Dengan adanya penambahan NH4+ maka asam alfa-ketoglutamat akan menjadi asam glutamate, dan selanjutnya akan terjadi aminasi, yaitu penambahan satu molekul NH4+ menjadi glutamine. Asam glutamat kemudian dapat memindahkan gugus aminnya ke asam alfa-keton yang lain, missal asam oksal-asetat membentuk asam amino yang lain, dan prosesnya dinamakan transaminasi

Asam glutamat → Asam oksalasetat → Asam alfa-ketoglutamat → Asam aspartat

            Banyak jenis mikrobia menggunkan nitrat sumber nitrogen tidak sebagai aseptor electron seperti yang terjadi pada respirasi anaerobik. Karenanya selama dikenal proses assimilasi nitrat dan dessimilasi nitrat, walaupun tahao awalnya sama yaitu reduksi nitrat menjadi nitrit.

            Assimilasi sulfat terjadi karena mikrobia membutuhkan sumber belerang. Tahap assimilasi terjadi dengan proses oksidasi sulfat dengan adenilasi membentuk nukleid-adenil-sulfat (APS) kemudian difosforilasi dan direduksi menjadi sulfit dan sulfide. Kegunaan belerang didalam proses ini aialah didalam sintesa asam amino yang mengandung S.

2.      Sintesa mikromolekul

Nukleotida merupakan precursor asam nukleat, terdiri dari purin basa atau pirimidin yang terikat pada ribose-fosfat. Senyawa tersebut merupakan bagian dari berbagai bentuk nukloetida, merupakan proses penting didalam sintesa nukleotida.

Pada umumnya sintesa purin dan pirimidin akan dimulai dangan aktivasi  ribose-5-fosfat, dan dengan adanya fosforolisasi menjadi fosforibossil-pirofosfat (PRPP). Di dalam sintesa nukleotidpurin senyawa ini dibentuk dari ribose-fosfat dengan deaminasi PRPP dan penambahan glisin, asam aspartat dengan menghasilkan inosin-monofosfat (IMP). Dari senyawa ini akan kemudian dibentuk adenosine monofosfat (AMF) dan guanosin monofosfat (GMP).

Di dalam sintesa ini, PRPP akan menggandakan kondensasi dengan asam orotat yang dihasilkan oleh reaksi seri dengan menghasilkan uridilat monofosfat (UMP) dan sesidin monofosfat (CMP).

SUMBER :

Suriawiria, Unus. 2008. Mikrobiologi Air. Alumni. Bandung

Kamis, 26 September 2013

Really?


Sebuah penemuan baru yang menghasilakn sebuah sutera yang sangat kuat dan elastis. Sutera yang dihasilkan mungkin mampu untuk dibuat menjadi jahitan dan parasut. Penelitian ini dihasilkan di laboratorium Malcolm Fraser Jr, Profesor ilmu biologi di Universitas Notre Dame. Sutera yang dihasilkan merupakan rekayasa transgenecally dari ulat sutera dan di gabungkan dengan kekuatan dan elastisitas dari sutera laba-laba.

Hasil penemuan ini mereka publikasikan dalam Prosiding National Academy of Sciences. “ini merupakan sesuatu yang baru dan belum seorangpun yang melakukannya, “kata Fraser. Proyek yang digunakan vektor piggyBac Fraser untuk menciptakan transgenik ulat sutra dengan sutera Laba-laba dan protein, ini merupakan kolaborasi yang unik yang di buat di Laboratorium bersama sama dengan Donald Jarvis dan Ranolph Lewis dari Universitas Wyoming. Jarvin membuat plasmid transgen di laboratoriumnya, sementara Fraser membuat ulat sutera trasgenik dan Lewis menganalisa serat dari ulat sutera. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa serat ulat sutera lebih keras dan khas sementara serat sutera yang dihasilkan oleh laba laba lebih elastis, ini menunjukkan ulat sutera dapat direkayasa untuk menghsilkan serat yang di inginkan tersebut.

Apa yang mereka temukan ini merupakan hasil penelitian yang mereka upayakan selama 10 tahun lama nya. Dengan penghargaan internal dari Notre Dame ke Fraser untuk mengembangkan kemampuan transgenik ulat. Apa yang mereka kerjakan ini tidak lah mudah dan mememrlukan dana yang besar pula, hampir  selama hampir dua tahun R21 NIH hibah yang diberikan kepada Jarvis, Lewis dan Fraser dan selama beberapa tahun dana tambahan diberikan oleh Laboratorium Kraig BioCraft. Keberhasilan yang dicapai dari penelitian panjang ini akan mustahil tanpa kemampuan untuk melakukan transgenesis ulat, dan ini dikuasai oleh Bong hee Sohn dan Young soo Kim di Lab Fraser di Notre Dame.

Kraig Biocraft Laboratories Inc bersama-sama dengan Fraser, Lewis dan Jarvin sedang mengevaluasi peluang bisnis dari serat generasi pertama yang mereka hasilkan yang bisa digunakan untuk tekstil dan non tekstil. Para peneliti akhirnya berharap untuk memperbaiki produk dari generasi pertama untuk membuat serat yang lebih kuat lagi.

sumber : http://saswinhtml.blogspot.com/search/label/Artikel#.UkTjsdJHI50
Referensi Jurnal:

F. Teule, Y.-G. Miao, B.-H. Sohn, Y.-S. Kim, J. J. Hull, M. J. Fraser, R. V. Lewis, D. L. Jarvis.” Silkworms transformed with chimeric silkworm/spider silk genes spin composite silk fibers with improved mechanical properties”. Proceedings of the National Academy of Sciences, 2012; DOI: 10.1073/pnas.1109420109