Tampilkan postingan dengan label PENYAKIT IKAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PENYAKIT IKAN. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 Januari 2014

PENYEBAB PENYAKIT PADA IKAN

PENYEBAB PENYAKIT
Non Parasit
Faktor-faktor kimia dan fisika, antara lain:
-          Perubahan salinitas air secara mendadak;
-          pH yang terlalu rendah (air asam), dan pH yang terlalu tinggi (air basa/alkalis);
-          Kekurangan oksigen dalam air;
-          Zat beracun, pestisida (insektisida, herbisida dan sebagainya);
-          Perubahan suhu air yang mendadak;
-          Kerusakan mekanis (luka-luka);
-          Perairan terkena polusi.
Makanan yang tidak baik :
-          Kekurangan vitamin dan komposisi gizi yang buruk;
-          Bahan makanan yang busuk dan mengandung kuman-kuman.
-          Bentuk fisik dan kelainan-kelainan tubuh yang disebabkan oleh keturunan.
Stres
-          Stres yang terjadi pada ikan berkaitan dengan timbulnya penyakit pada ikan tersebut. Stres merupakan suatu rangsangan yang menaikkan batas keseimbangan psikologi dalam diri ikan terhadap lingkungannya. Biasanya stres pada ikan diakibatkan perubahan lingkungan akibat beberapa hal atau perlakuan misalnya akibat pengangkutan/transportasi ikan-ikan yang dimasukkan ke dalam jaring apung di laut dari tempat pengangkutan biasanya akan mengalami shock, berhenti makan dan mengalami pelemahan daya tahan terhadap penyakit.
Kepadatan Ikan
-          Kepadatan ikan yang melebihi daya dukung perairan (carrying capacity) akan menimbulkan persaingan antar ikan tinggi, oksigen terlarut menjadi rendah dan sisa metabolisme seperti ammonia akan meningkat sehingga dapat menimbulkan stres dan merupakan penyebab timbulnya serangan
Parasit atau panthogen adalah organisme dalam bentuk hewan atau tumbuh-tumbuhan atas pengorbanan dari induk emangnya (hewan atau tumbuh-tumbuhan lain). Parasit dapat berkembang dan menyebabkan infeksi yang dapat menularkan penyakit itu sendiri.


FAKTOR – FAKTOR  YANG MEMUDAHKAN  MUNCULNYA  PARASIT
Beberapa factor memudahkan munculnya parasit  : Faktor-faktor tersebut antara lain : :
-          Stocking density : Kepadatan tebar tinggi, kontak langsung dan adanya inang
-          Physical trauma : handling,  grading dapat menyebabkan luka
-          Air Kolam :  kualitas air jelek
-          Selective breeding : Seleksi dalam mencarai warna dan bentuk yang bagus bisa mengakibatkan lemah.
-          Lingkungan : perubahan temperature
-          Predator  ;  Bisa sebagai inang penular
-          System budidaya :  kolam tanah  merupakan media bagi sebagaian siklus hidup parasit

-          Species baru : Masuknya species ikan yang baru bisa  mengakibatkan masuknya parasit baru

Lemea sp.

Lemea sp. menurut Handajani (2005), merupakan salah satu ektoparasit yang termasuk ke dalam phylum Arthopoda, kelas Crustacea, sub kelas Entomostraea, ordo Copepoda, family Lemaideae genus Lemea, spesies Lernea sp. Kordi (2004) menjelaslkan bahwa parasit Lernea sp. sepintas mirip sebuahi jarum yang menancap pada tubuh ikan, sehingga sering disebut kutu jarum. Handajani (2005) juga menyebutkan bahwa Lernea sp. adalah parasit yang menancapkan kepalanya kedalam tubuh ikan dengan menggunakan semacam perangkat mirip jangkar. Ikan yang terserang penyakit ini memperlihatkan gejala klinis antara lain :organ tubuh yang diserang Lemea sp. Nampak seperti cacing yangbergelantungan. Bagian kepala dengan jangkamya berada dalam daging ikansedangkan bagian badannya dengan 2 kantong telur keluar bebas. Pertumbuhanikan semakin menumn dan terhambat, badannya kums. Bila Lemea sp dicabutmeninggalkan bekas luka bempa sebuah lubang kecil pada tubuh ikan (Daelani,2001).

Daelani, A. S. 2001. Agar Ikan Sehat. Penebar Swadaya. Jakarta
Handajani, H. 2005. Parasit dan Penyakit Ikan. Universitas Muhammadiyah. Malang
Kordi, H. 2004. Penanggulangan Hama dan Penyakit. Asdi Mahasatya. Jakarta.

Argulus sp

1.      Argulus sp
Argulus sp. merupaKan ektoparasit ikan yang menyebabkan argulosis.Akibat yang ditimbulkan oleh infeksi Argulus sp. pada ikan adalah beberapa sisiktubuh terlepas, terdapat titik-titik merah pada kulit, insang berwama kehitam-hitaman dan timbulnya lendir (mukus) yang berlebih pada sirip. Pertahananpertama ikan terhadap serangan penyakit berada di permukaan kulit, yaitu mukus,jaringan epitelia, insang. Mukus melapisi selumh permukaan integumen ikan,termasuk kulit, insang dan pemt. Pada saat terjadi infeksi atau iritasi fisik dankimiawi, sekresi mukus meningkat. Lapisan mukus secara tetap dan teratur akandiperbarui sehingga kotoran yang menempel di tubuh ikan juga ikut dibersihkan.Mukus ikan mengandung lisosim, komplemen, antibody (IG M) dan proteaseyang berperan untuk mendegradasi dan mengeliminer patogen (Awik dkk 2007).Parasit ini masuk ke dalam tempat pemeliharaan biasanya melaluipergesekan antar kulit ikan yang terinfeksi Argulus sp. Sifat parasitik Argulus sp.cenderung temporer yaitu mencari inangnya secara acak dan dapat berpindahdengan bebas pada tubuh ikan lain atau bahkan meninggalkannya. Hal ini dapatdilakukan karena Argulus sp. mampu bertahan hidup selama beberapa hari di luartubuh ikan (Daelani 2001).Handajani (2005) menjelaskan bahwa Argulus sp. merupakan salah satuektoparasit yang termasuk dalam phylum Arthropoda, kelas Crustacea, subkelasEntomostraea, ordo Copepod, subordo Branchiora, family Argulidae, genusArgulus dan spesies Argulus indicus.

Menurut Handajani (2005) Argulus sp. menempel pada ikan denganmenggunakan alat penghisap. Argulus sp. berbentuk seperti kutu berwamakeputih-putihan sehingga disebut kutu ikan. Sedangkan Rachmatun (1983)menjelaskan bahwa ^rgw/M5 sp. memiliki bentuk bulat pipih (oval) dan transparanserta dilengkapi alat untuk mengkaitkan tubuhnya pada inang dengan menempelpada bagian tubuh ikan. Tubuh Argulus sp. terdiri dari dua bagian yaituCephalothorax dan abdomen pada bagian kepala terdapat sepasang mata majemukdan sebuah mata naupilus yang mulai terbentuk pada stadia naupilus. PadaCephalothorax bagian ventral sebelah anterior mata terdapat dua pasang antenna,pada bagian beiakang mata terdapat alat penusuk dan kelenjar racun serta belalaiuntuk menghisap darah inang.Kabata (1985) menjelaskan bahwa ikan yang terserang parasit ini akanmenunjukkan gejala klinis seperti : lesu, berdiam di sudut kolam, nafsu makanhilang, kulit kusam, sirip koyak kadang terkelupas, sisik lepas, luka berdarah yangberkembang menjadi hyperplasia dan nekrosis. Ikan yang terserang Argulus sp.sering menunjukkan tanda gatal-gatal (menggosok-gosokkan tubuh pada benda-benda dalam air), ini disebabkan aktifitas parasit yang mengambil makanan.Infeksi Argulus sp. juga dapat mendukung infeksi sekunder yang disebabkan olehbakteri. Argulus sp. atau kutu ikan mempakan ektoparasit yang menempel padabagian luar tubuh ikan.Argulus sp. berkembang biak dengan kopulasi, melekatkan telumya padasubstrat yang keras seperti batu atau kayu. Jumlah telur berkisar 20 - 300 butir.Panjang telur ±0,28 - 0,30 mm dan lebamya 0,22 - 0,24 mm. Telur akan menetassetelah berumur 12 hari pada suhu 15,2 ''C - 26,1 "C. larva yang baru menetas iniakan mati, bila dalam waktu 36 jam tidak menemukan inangnya. Perkembanganstadium larva hingga menjadi dewasa melalui tujuh stadium. Dewasa yang hiduptanpa inang bila lebih dari 9 hari akan mati (Kabata 1985).

Awik, P. D. N., Hidayati D., Ressa P., Setiawan. E. 2007. Pola Distribusi Anisakis sp Pada Usus Halus Ikan Kakap Putih (Lates calcarifer) yang Tertangkap di TPI Brondong, Lamongan. Prodi Biologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, Lab. Zoologi. Alumni Prodi Biologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya.
Daelani, A. S. 2001. Agar Ikan Sehat. Penebar Swadaya. Jakarta
Handajani, H. 2005. Parasit dan Penyakit Ikan. Universitas Muhammadiyah. Malang.

PENGOBATAN Aeromonas hydrophila

Aeromonas hydrophila
Pengobatan yang selama ini banyak dilakukan adalah dengan pemberian antibiotik. Namun, penggunaan antibiotik pada skala besar kurang efisien, karena selain tidak ekonomis, dampak yang ditimbulkannya adalah bertambahnya jenis bakteri yang resisten terhadap antibiotik dan dapat mencemari lingkungan (Mariyono dan Sundana, 2002). Salah satu cara pengobatan alternatif yang efektif adalah menggunakan fitofarmaka. Fitofarmaka merupakan obat alamiah yang berasal dari tumbuhan, bahan bakunya telah mengalami standarisasi, memenuhi syarat baku yang resmi, telah dilakukan penelitian ilmiah mengenai bahan baku serta kegunaan dan khasiatnya jelas seperti resep dokter (Anonim, 1995 dalam Sopiana, 2005).
Beberapa jenis fitofarmaka dapat dicobakan untuk pengobatan penyakit ikan, karena merupakan bahan alami yang mudah hancur serta aman dan tidak ada residu di dalam tubuh ikan sehingga ramah lingkungan. Salah satu fitofarmaka yang dapat digunakan adalah bawang putih. Bawang putih bersifat antibakteri karena salah satu komponennya, yaitu allicin merupakan komponen utama yang berperan dalam memberi aroma bawang dan merupakan salah satu zat aktif yang diduga dapat membunuh kuman-kuman penyakit (Watanabe, 2001).
Salah satu tanaman jenis herba yang berkhasiat obat adalah meniran (Phyllanthus niruri). Tanaman ini merupakan jenis tanaman obat yang dapat bermanfaat untuk mencegah berbagai macam infeksi virus dan bakteri, serta mendorong sistem kekebalan tubuh. Hal ini disebabkan oleh adanya kandungan flavonoid, alkaloid, tanin, dan vitamin C dalam meniran (Triarsari, 2009). Tanaman lain yang juga berkhasiat obat adalah bawang putih yang mengandung zat aktif alisin dan minyak atsiri. Kedua bahan tersebut diduga sebagai antibakteri untuk menekan bakteri yang merugikan sehingga juga akan memberikan peluang pertumbuhan mikroorganisme yang menguntungkan di dalam saluran pencernaan secara optimum.
Berdasarkan hasil penelitian Ayuningtyas (2009), ekstrak daun meniran 5 ppt dan bawang putih 20 ppt dapat menghambat pertumbuhan bakteri A. hydrophila pada ikan lele dumbo dengan metode injeksi.
Kitosan merupakan limbah hasil perikanan yang berasal dari kulit krustasea setelah mengalami demineralisasi, deproteinasi, dan deasetilasi. Bahan dasar kitosan ini mudah diperoleh, tersedia dalam jumlah banyak, dan belum termanfaatkan secara optimal. Kitosan sebagai polimer alami yang memiliki berat molekul yang tinggi, dan tidak beracun dapat merangsang sistem imun, mempercepat penyembuhan luka, dan bersifat antibakteri (Suptijah, 2006). Pemberian kitosan melalui penyuntikan dan perendaman dilaporkan dapat meningkatkan ketahanan Salvelinus fontinalis terhadap infeksi Aeromonas salmonicida (Anderson et al., 1994). Sedangkan Sukenda et al. (2007) melaporkan juga bahwa uji in vivo pada udang putih, Litopenaeus vannamei, menunjukkan bahwa penggunaan kitosan sebagai imunostimulan mampu meningkatkan total hemosit serta indeks fagositosis (Sukenda et al., 2007). Sehingga kitosan diharapkan mampu menjadi alternatif bahan alami dalam pencegahan penyakit Motile Aeromonad Septicaemia khususnya pada ikan lele.

SUMBER ACUAN
Ayuningtyas, A.K. 2008. Efektivitas campuran meniran Phyllanthus niruri dan bawang putih Allium sativum untuk pencegahan dan pengobatan infeksi bakteri Aeromonas hydrophila pada ikan lele dumbo Clarias sp. [Skripsi]. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Sukenda, Y.T. Trianggoro, D. Wahyuningrum dan Rahman. 2007. Penggunaan kitosan untuk pengendalian infeksi vibrio harveyi pada udang putih Litopenaeus vannamei. Jurnal Akuakultur Indonesia, 6 (2): 205-209.
Suptijah, P. 2006. Deskriptif karakteristik fungsional dan aplikasi kitin kitosan. Prosiding Seminar Nasional Kitin Kitosan. Departemen Teknologi Hasil Perikanan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Anderson, D.P., A.K Siwicki. 1994. Duration of Protection Againts Aeromonas salmonicida in Brook Trout Immunostimulated with Glucan or Chitosan by Injection or Immersion. The Progressive Fish-Culturist; 56:258-261p.
Mariyono dan Sundana. 2002. Teknik pencegahan dan pengobatan penyakit bercak merah pada ikan air tawar yang disebabkan oleh bakteri Aeromonas hydrophila. Buletin Teknik Pertanian. Badan Litbang Pertanian. Jakarta. Vol. 7(1):33-36.
Sopiana, P. 2005. Efektifitas ekstrak paci-paci (Leucas lavandulaefolia) untuk pencegahan dan pengobatan penyakit MAS (Motile Aeromonad Septicaemia) pada ikan lele dumbo (Clarias sp). Skripsi. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor.
Triarsari, D. 2009. Aneka ramuan pencegah SARS. http://www.depkes.go.id/ index. php?option=articles. [11 Januari 2009]

Watanabe, T. 2001. Penyembuhan dengan terapi bawang putih. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Minggu, 17 November 2013

Iridovirus

Iridovirus adalah virus hewan yang menginfeksi invertebrata dan vertebrata poikilotermik, seperti ikan, insekta, amfibi, dan reptil (Williams, 1996). Iridovirus merupakan virus DNA untai ganda berbentuk simetri ikosahedral, tidak semuanya beramplop, dan mempunyai diameter 120-300 (Tidona et al., 1998). Virion iridovirus terdiri dari tiga domain konsentris yaitu protein capsid di bagian luar, membran lipid yang mengandung subunit protein di bagian tengah, dan core yang tersusun dari kompleks DNA-protein. Virus ini memiliki 25-75 protein struktural dengan kisaran berat molekul 12.000-150.000 kDa. Secara umum protein capsid iridovirus berukuran sekitar 50 kDa dan merupakan komponen struktural utama yang jumlahnya mencapai 45% dari protein virion total. Ukuran genom iridovirus bervariasi antara 105-212 kbp).

Iridovirus mempunyai strategi replikasi yang melibatkan stadium nuklear dan sitoplasmik, menghasilkan genom komplit dengan duplikasi beberapa gen di ujungnya (terminal redundancy) dan ujung tersebut berbeda diantara partikel virus yang dihasilkan (cyclic permutation). Gen penyandi protein capsid dari beberapa iridovirus vertebrata dan invertebrata telah disekuensing dan coding region nya mempunyai banyak kemiripan.

Ikan yang terinfeksi iridovirus nampak lemah, nafsu makan menurun, mengalami anemia yang berat, bercak merah (ptechiae) pada insang, pembengkakan limpa, dan ginjal. Menurut Tidona et al. (1998), kerapu malabar yang terinfeksi iridovirus menunjukkan gejala warna insang dan tubuh pucat, hilangnya keseimbangan sehingga ikan diam di dasar jaring apung dan biasanya akan mati dalam waktu satu hari setelah gejala muncul.

DAFTAR PUSTAKA

Tidona, C. A., Schnitzler, P., Kehm, R. & Darai, G. 1998. Is the major capsid protein of iridoviruses a suitable target for the study of viral evolution? Virus Genes 16, 59-66.
Williams, T. 1996. The Iridoviruses.  Advances in Virus Research 46, 345–412.


Aeromonas hydrophila

Aeromonas hydrophila


Pengobatan yang selama ini banyak dilakukan adalah dengan pemberian antibiotik. Namun, penggunaan antibiotik pada skala besar kurang efisien, karena selain tidak ekonomis, dampak yang ditimbulkannya adalah bertambahnya jenis bakteri yang resisten terhadap antibiotik dan dapat mencemari lingkungan (Mariyono dan Sundana, 2002). Salah satu cara pengobatan alternatif yang efektif adalah menggunakan fitofarmaka. Fitofarmaka merupakan obat alamiah yang berasal dari tumbuhan, bahan bakunya telah mengalami standarisasi, memenuhi syarat baku yang resmi, telah dilakukan penelitian ilmiah mengenai bahan baku serta kegunaan dan khasiatnya jelas seperti resep dokter (Anonim, 1995 dalam Sopiana, 2005).

Beberapa jenis fitofarmaka dapat dicobakan untuk pengobatan penyakit ikan, karena merupakan bahan alami yang mudah hancur serta aman dan tidak ada residu di dalam tubuh ikan sehingga ramah lingkungan. Salah satu fitofarmaka yang dapat digunakan adalah bawang putih. Bawang putih bersifat antibakteri karena salah satu komponennya, yaitu allicin merupakan komponen utama yang berperan dalam memberi aroma bawang dan merupakan salah satu zat aktif yang diduga dapat membunuh kuman-kuman penyakit (Watanabe, 2001).

Salah satu tanaman jenis herba yang berkhasiat obat adalah meniran (Phyllanthus niruri). Tanaman ini merupakan jenis tanaman obat yang dapat bermanfaat untuk mencegah berbagai macam infeksi virus dan bakteri, serta mendorong sistem kekebalan tubuh. Hal ini disebabkan oleh adanya kandungan flavonoid, alkaloid, tanin, dan vitamin C dalam meniran (Triarsari, 2009). Tanaman lain yang juga berkhasiat obat adalah bawang putih yang mengandung zat aktif alisin dan minyak atsiri. Kedua bahan tersebut diduga sebagai antibakteri untuk menekan bakteri yang merugikan sehingga juga akan memberikan peluang pertumbuhan mikroorganisme yang menguntungkan di dalam saluran pencernaan secara optimum.
Berdasarkan hasil penelitian Ayuningtyas (2009), ekstrak daun meniran 5 ppt dan bawang putih 20 ppt dapat menghambat pertumbuhan bakteri A. hydrophila pada ikan lele dumbo dengan metode injeksi.

Kitosan merupakan limbah hasil perikanan yang berasal dari kulit krustasea setelah mengalami demineralisasi, deproteinasi, dan deasetilasi. Bahan dasar kitosan ini mudah diperoleh, tersedia dalam jumlah banyak, dan belum termanfaatkan secara optimal. Kitosan sebagai polimer alami yang memiliki berat molekul yang tinggi, dan tidak beracun dapat merangsang sistem imun, mempercepat penyembuhan luka, dan bersifat antibakteri (Suptijah, 2006). Pemberian kitosan melalui penyuntikan dan perendaman dilaporkan dapat meningkatkan ketahanan Salvelinus fontinalis terhadap infeksi Aeromonas salmonicida (Anderson et al., 1994). Sedangkan Sukenda et al. (2007) melaporkan juga bahwa uji in vivo pada udang putih, Litopenaeus vannamei, menunjukkan bahwa penggunaan kitosan sebagai imunostimulan mampu meningkatkan total hemosit serta indeks fagositosis (Sukenda et al., 2007). Sehingga kitosan diharapkan mampu menjadi alternatif bahan alami dalam pencegahan penyakit Motile Aeromonad Septicaemia khususnya pada ikan lele.

DAFTAR PUSTAKA
Ayuningtyas, A.K. 2008. Efektivitas campuran meniran Phyllanthus niruri dan bawang putih Allium sativum untuk pencegahan dan pengobatan infeksi bakteri Aeromonas hydrophila pada ikan lele dumbo Clarias sp. [Skripsi]. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Sukenda, Y.T. Trianggoro, D. Wahyuningrum dan Rahman. 2007. Penggunaan kitosan untuk pengendalian infeksi vibrio harveyi pada udang putih Litopenaeus vannamei. Jurnal Akuakultur Indonesia, 6 (2): 205-209.

Suptijah, P. 2006. Deskriptif karakteristik fungsional dan aplikasi kitin kitosan. Prosiding Seminar Nasional Kitin Kitosan. Departemen Teknologi Hasil Perikanan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Anderson, D.P., A.K Siwicki. 1994. Duration of Protection Againts Aeromonas salmonicida in Brook Trout Immunostimulated with Glucan or Chitosan by Injection or Immersion. The Progressive Fish-Culturist; 56:258-261p.

Mariyono dan Sundana. 2002. Teknik pencegahan dan pengobatan penyakit bercak merah pada ikan air tawar yang disebabkan oleh bakteri Aeromonas hydrophila. Buletin Teknik Pertanian. Badan Litbang Pertanian. Jakarta. Vol. 7(1):33-36.

Sopiana, P. 2005. Efektifitas ekstrak paci-paci (Leucas lavandulaefolia) untuk pencegahan dan pengobatan penyakit MAS (Motile Aeromonad Septicaemia) pada ikan lele dumbo (Clarias sp). Skripsi. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor.
Triarsari, D. 2009. Aneka ramuan pencegah SARS. http://www.depkes.go.id/ index. php?option=articles. [11 Januari 2009]

Watanabe, T. 2001. Penyembuhan dengan terapi bawang putih. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.