Minggu, 05 Januari 2014

SELEKSI

SELEKSI
AHMAD HUSEIN
11/313633/PN/12327
A.    TUJUAN
-          Mendapatkan indukan yang berkualitas dalam pemijahan
-          Memperoleh bibit unggul
-          Pemurniaan spesies untuk memperbaiki sifat yang terukur
-          Mendapatkan ikan yang bagus untuk dipasarkan (ikan hias)
-          Mendapatkan fenotif yang diharapkan
B.     ALAT DAN BAHAN
Alat                                               Bahan
-          Aquarium                                - ikan Guppy
-          Penggaris                                 - pakan D0
-          Timbangan
-          Selang
-          Aerasi
-          seser
C.    CARA KERJA
Disiapkan tempat pemeliharaan ikan guppy
Diukur panjang dan total berat ikan guppy, @10 ekor/aquarium
Diisi tempat pemeliharaan dengan ikan guppy, @40 ekor/aquarium
Ditentukan jadual pemberiaan pakan dan penyifonan
Dipelihara ikan selama 3 minggu
Diukur panjang dan berat total ikan guppy, @10 ekor/aquarium saat panen


D.    HASIL PENGAMATAN
Data tebar awal
kelompok
Kelompok 1
Kelompok 2
Kelompok 3
Kelompok 4
Kelompok 5
No
L(cm)
W(gr)
L(cm)
W(gr)
L(cm)
W(gr)
L(cm)
W(gr)
L(cm)
W(gr)
1
2
0.31
3.2
0.29
2.5
0.32
3
0.22
3
0.48
2
2.5
0.38
3
0.53
3
0.27
3.5
0.45
3.5
0.35
3
2.2
0.19
3.1
0.31
3.5
0.38
2.5
0.23
3.5
0.36
4
2.9
0.24
3
0.24
3
0.43
3
0.21
3.5
0.46
5
3
0.48
3
0.27
3
0.33
3
0.28
2
0.22
6
2.5
0.26
2.5
0.3
2.5
0.21
3
0.2
2.5
0.34
7
3.2
0.39
2.8
0.26
3
0.25
3
0.21
2.5
0.29
8
2.5
0.23
2.2
0.19
3.3
0.33
3.5
0.43
2
0.21
9
2.6
0.23
3
0.52
3
0.18
3
0.25
3
0.23
10
3
0.31
2.3
0.26
2
0.11
1.5
0.13
3.5
0.29
Jumlah
26.4
3.02
28.1
3.17
28.8
2.81
29
2.61
29
3.23
Tertinggi
3.2
0.48
3.2
0.53
3.5
0.43
3.5
0.45
3.4
0.48
terendah
2
0.19
2.2
0.19
2
0.11
1.5
0.13
2
0.21
Rata-rata
2.64
0.302
2.81
0.317
2.88
0.281
2.9
0.261
2.9
0.323
Tabel 1: Data panjang berat penebaran awal

Data panen
kelompok
Kelompok 1
Kelompok 2
Kelompok 3
Kelompok 4
Kelompok 5
No
L(cm)
W(gr)
L(cm)
W(gr)
L(cm)
W(gr)
L(cm)
W(gr)
L(cm)
W(gr)
1
3.5
0.3
3.5
0.82
3.5
0.6
2.5
0.17
3
0.42
2
3.5
0.35
3.7
0.72
4
0.7
3.5
0.3
3
0.32
3
3.5
0.35
2.3
0.17
3.5
0.68
3.6
0.39
4
0.37
4
4.5
0.43
2.2
0.37
4
0.8
3
0.23
3.5
0.55
5
4.5
0.38
4
0.93
4
0.43
2.5
0.29
3.3
0.69
6
4
0.35
2.5
0.47
3.5
0.31
4
0.51
3.1
0.28
7
4.5
0.48
3
0.37
4
0.58
3.5
0.57
3.5
0.31
8
3.5
0.23
3
0.68
3
0.72
3.5
0.37
3.8
0.55
9
4
0.31
2.5
0.32
3.5
0.38
3
0.3
3.5
0.23
10
3.5
0.2
2.5
0.32
3.5
0.3
3
0.21
3.5
0.49
Jumlah
39
3.38
29.2
5.17
36.5
5.5
32.1
3.34
34.2
4.21
Tertinggi
4.5
0.48
4
0.93
4
0.8
4
0.57
4
0.69
terendah
3.4
0.2
2.2
0.17
3
0.3
2.5
0.17
3
0.23
Rata-rata
3.9
0.338
2.92
0.517
3.65
0.55
3.21
0.334
3.42
0.421
Tabel II: Data panjang berat pemanenan


E.     PEMBAHASAN
Seleksi merupakan suatu teknik pemuliaan ikan secara klasik untuk memperbaiki sifat yang terukur. Prinsip dasar dari seleksi ini adalah mengeksploitasi sifat additive dari alel-alel pada semua lokus yang mengontrol sifat terukur untuk memperbaiki suatu strain ikan (Kirpichinkov, 1981). Jadi, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa seleksi merupakan suatu usaha pemilihan individu dari populasi yang bertujuan untuk mendapatkan beberapa hal yang baik.
Menurut Prihartono (2004), ada tiga teknik seleksi yang umum dilakukan oleh pembudidaya untuk memperoleh induk dan benih yang unggul. Yaitu sebagai berikut :
a.       Seleksi individu
Seleksi individu yaitu seleksi yang dilakukan secara individu atau perekor. Selanjutnya dipilih benih yang terbaik yaitu yang mempunyai karakteristik yang sesuai dengan standard dan yang telah dibakukan seperti tidak cacat fisik dan yang mempunyai sifat-sifat unggul. Sebagai contohn ikan Nila Anjani yang merupakan hasil seleksi individu di Balai Pembenihan dan Budidaya Ikan Air Tawar Aik Mel, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Ikan Nila Merah yang merupakan hasil seleksi individu di Unit Kerja Budidaya Air Tawar Cangkringan, Balai Teknologi Kelautan dan Perikanan, Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta.
b.      Seleksi alamiah
Seleksi alamiah merupakan seleksi yang secara kebetulan yaitu benih yang dijadikan induk diperoleh dari induk-induk yang tidak jelas tapi mempunyai keunggulan yang sesuai dengan standar baku. Contohnya Lobster air tawar.
c.       Seleksi massal
Seleksi missal yaitu seleksi yang merupakan hasil pemijahan berbagai jenis induk yang dimiliki. Seleksi yang dilakukan yaitu memilih benih hasil pemijahan yang mempunyai keunggulan fisik seperti warna yang sesuai dengan induk, tubuh ikan tidak cacat dan mempunyai sifat unggul dari induknya. Seleksi ini mudah untuk dilakukan dan tidak memerlukan banyak kolam untuk melakukannya.
Sutisna dan Sutarmanto (1996) menambahkan seleksi famili sebagai salah satu teknik dalam seleksi. Seleksi ini dilakukan untuk memperoleh beberapa famili yang merupakan keturunan dari pasangan-pasangan induk atau kelompok pasangan dalam jumlah kecil yang merupakan hasil terbaik dari sifat-sifat yang dikehendaki. Menurut Kirpichinkov (1991) mengemukakan bahwa cara seleksi dengan seleksi famili cukup efektif karena heretabilitsanya tinggi.
Pemuliaan ikan adalah ilmu terapan yang mempelajari bagaimana mengeksploitir komponen keanekaragaman yang dapat diturunkan dari induk keanaknya untuk mengubah populasi demu keuntungan manusia (Alawi, et al., 2006). Hal tersebut terbagi menjadi dua macam yaitu seleksi perkawinan dan seleksi persilangan. Seleksi perkawinan adalah program pengembangbiakan yang mencoba memperbaiki nilai perkembangbiakan suatu populasi dengan menyeleksi dan mengawinkan ikan yang unggul dengan harapan ikan yang terpilih akan mewariskan keunggulan mereka kepada keturunan. Tujuan dari seleksi perkawinan adalah untuk menigkatkan mutu dari keturunan suatu populasi yang sangat ditentukan oleh gen ikan tersebut (Tave, 1995). Seleksi persilangan adalah program pengembangbiakan suatu family dengan menyeleksi suatu populasi dari famili, tujuannya sama dengan seleksi perkawinan, hanya saja ikan yang diseleksi berdasarkan dari famili ikan yang akan diseleksi.
Tujuan dari seleksi adalah untuk mendapatkan unduk yang mempunyai produktivitas yang tinggi dengan cirri morfologi yang dikehendaki dan dapat diturunkan. Produktivitas yang tinggi ini terutama dicirkan oleh sifat cepat tumbuh dan kelangsungan hidup yang tinggi pada lingkungan budidaya tertentu. Seleksi juga bertujuan untuk memperoleh bibit yang unggul. Dalam usaha budidaya ikan secara intensif dibuthkan benih dan induk yang tertentu. Induk yang bermutu akan menghasilkan benih ikan yang bermutu juga. Untuk meningkatkam mutu induk yang digunakan harus dilakukan seleksi terlebih dahulu. Disini seleksi bertujuan sebagai pemurniaan genettik. Oleh karena itu, dengan melakukan seleksi ikan yang benar maka akan dapat memperbaiki genetik ikan itu sehingga dapat melakukan pemuliaan ikan. Tujuan dari pemuliaan ikan tersebut adalah untuk menghasilkan benih yang unggul yang diperoleh dari hasil seleksi agar dapat meningkatkan produktivitas. Seleski pada ikan hias bertujuan untuk mendapatkan strain varietas baru dengan warna atau pigmentasi dan bentuk tubuh yang menarik. Hal ini sudah dapat dilakukan terhadap jenis-jenis ikan yang sudah umum dibudidayakan. Seleksi yang berbahaya yang banyak dilakukan adalah terhadap jenis yang dibiakkan dengan rangsangan hormone seperti teknik hipofisasi, seperti pada jenis ikan dengan induk mencapai ukuran besar seperti ikan Koan (78 kg), Mola (74 kg) dan Jambal Siam. Untuk menghambat hormone yang memudahkan penanganan maka induk-induk yang dipilih berukuran kecil (2-3 kg/ekor), cara ini jelas tidak benar karena induk-induk akan menghasilkan benih yang pertumbuhannya lambat (Hardjamulia, 1988).
Pada percobaan seleksi yang akan dilakukan, ikan yang digunakan sebagai sampel adalah ikan guppy. Hal pertama yang dilakukan adalah membersihkan tempat pemeliharaan ikan, wadah pemeliharaan berupa aquarium. Aquarium yang telah dibersihkan kemudiaan diisi dengan air bersih dan diberi aerasi. Masing-masing dari setiap kelompok mengukur panjang total dan berat ikan guppy sebanyak 40 ekor. Ikan guppy yang telah diukur panjang total da beratnya kemudiaan ditebar pada wadah pemeilharaan dengan hati-hati. Masing-masing dari setiap kelompok kemudian mementukan jadwal pemberiaan pakan dan waktu penyifonan. Pemeberiaan pakan dapat dilakukan pada pagi dan sore hari dan pakan yang diberikan berupa pakan D0 yang sesuai dengan bukaan mulut ikan. Ikan guppy tersebut dipelihara selama 3  minggu. Air aquarium yang terlalu keruh bisa disifon maupun dilakukan pergantian air. Setelah 3 minggu masa pemeliharaan, ikan guppy kemudian dipanen dan diukur kembali panjang total dan berat ikan guppy.
Berdasarkan hasil uji yang telah dilakukan pada seleksi ikan guppy, maka dapat diperoleh kesimpulan bahwa secara keseluruhan ikan guppy mengalami kenaikan bobot tuuh dan panjang total. Secara garis besar, teknik seleksi yang digunakan pada percobaan ini merupakan teknik seleksi secara massal, dimana hasil pemijahan yang mempunyai keunggulan fisik seperti warna yang sesuai dengan induk dipilih sebagai sampel benih yang unggul. Seleksi missal lebih ditekankan pada jenis ikan hias air tawar, sementara untuk ikan konsumsi seleksi yang umum dipakai adalah seleksi individu.
Data awal pada kelompok I menunjukkan pola pertumbuhan yang tergolong baik dimana pada awal pengukuran total panjang dan berat ikan guppy memiliki nilai L tertinggi yaitu 3,2 cm meningkat menjadi 4,5 cm dengan jumlah rata-rata awal yaitu 2,64 cm meningkat 3,9 cm. Sementara untuk nilai W awal adalah 0,48 gr sama dengan nilai W akhir dengan rata-rata peningkatan nilai W 0,302 gr menjadi 0,338 gr. Nilai L dan W terendah yaitu 25 cm 0,19 gr menigkat 3,5 cm dan 0,2 gr.
Data awal pada kelompok II menunjukkan pola pertumbuhan yang kurang baik dimana data awal dan data akhir menunjukkan data yang sama, yaitu rata-rata awal nilai L adalah 2,81 cm meningkat 2,92 cm dan rata-rata nilai W adalah 0,317 gr menjadi 0,517 gr. Pada kelompok ini setiap individu lebih menunjukkan pola pertumbuhan terhadap peningkatan jumlah biomassa, sedangkan untuk pertumbuhan panjang tubuh meningkat secara perlahan/tidak pesat.
Data awal pada kelompok III tergolong baik dimana pola pertumbuhan menunjukkan keseragaman antara pertumbuhan nilai L dan nilai W. Nilai L 3,5 cm meningkat 4 cm dan nilai W memiliki nilai rata-rata 0,281 gr menjadi 0,55 gr. Nilai W tertinggi pada awal adalah 3,5 cm dan pada akhir 4 cm , seddangkan untuk nilai W awal adalah 0,43 gr dan akhir 0,8 gr. Peningkatan yang tergolong tinggi jika dibandingkan dengan kelompok lain.
Data awal pada kelompok IV dan V tergolong cukup baik dimana terjadi pola pertumbuhan yang baik akan tetapi pertumbuhan yang dimaksud tidak dalam kondisi yang pesat. Data awal pada kelompok IV memiliki nilai L 3,5 cm meningkat 4 cm pada data akhir. Sedangkan untuk nilai W awal adalah 0,45 gr meningkat menjadi 0,57 gr pada data akhir. Dengan rata-rata peningkatan W awal 0,281 gr menjadi 0,55 gr dan rata-rata nilai L 2,9 cm meningkat 3,21 cm. Pada kelompok V, data awal untuk rata-rata nilai W adalah 0,323 gr meningkat 0,421 gr dan rata-rata untuk nilai L yaitu 2,9 cm meningkat 3,42 cm, dengan W tertinggi 0,45 gr menjadi 0,69 gr dan nilai W terendah 0,21 gr menjadi 0,23 gr.

F.     KESIMPULAN
-          Seleksi dalam budidaya dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa teknik seleksi yaitu seleksi individu/massa, seleksi missal, seleksi alamiah maupun dengan seleksi famili. Seleksi pada individu/populasi dengan tujuan mendapatkan individu yang sesuai dengan kebutuhan, sama dengan karakter induk merupakan seleksi yang umum digunakan dalam seleksi ikan hias.
-          Kebutuhan suatu seleksi dalam budidaya tergantung dari apa yang diinginkan oleh breeder, permintaan pasar dan jenis ikan yang akan diseleksi.







DAFTAR PUSTAKA
Alawi, H., Nuraini dan Sukendi., 2006. Genetika dan Pemulian Ikan. Universitas Riau Press, Pekanbaru.
Hardjamulia, A. 1998. Penyediaaan Induk Untuk Usaha Pembenihan Ikan Budidaya Air Tawar. Balai Penelitian Perikanan Air Tawar. Bogor
Kirpichnikov, V.S. 1981. Genetic Bases of Fish Selection. Springer-Verlag. Heiderbergerman. Berlin
Prihartono, R. E. 2004. Permasalahan Gurami dan Solusinya. Penebar Swadaya. Jakarta
Sutisna, D. H dan Sutarmanto, R. 1995. Pembenihan Ikan Air Tawar. Kanisius. Yogyakarta
Tave, D. 1995. Selective Breeding Programmes for Medium-Sized Fish Farmer. Food and Agricultural Organization. Urania Unlimited Coos Bay, Oregon USA, pp.352


HIPOFISASI

HIPOFISASI
AHMAD HUSEIN
11/313633/PN/12327
A.    TUJUAN
-          Mengetahui arti penting hipofisasi pada ikan
-          Mengetahui cara melakukan hipofisasi pada ikan
-          Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan hipofisasi

B.     ALAT DAN BAHAN
Alat:                                                                Bahan
-          Pisau atau golok                                - Ikan mas (Cyprinus carpio)
-          Spuit                                                  - Aquabidest
-          Jarum/tusuk gigi                                - Kapas
-          Sentrifuge                                          - Alkohol 70%
-          Timbangan
-          Gelas piala

C.    CARA KERJA
1.      Pemilihan ikan donor
-          Ikan mas (Cyprinus carpio)
-          Indukan jantan dengan bobot 500 gram
2.      Pengambilan kelenjar hipofisa
Kepala ikan dipotong hingga putus
Dihadapkan ke atas, dipotong dari lubang dekat hidung
Dibersihkan bagian sekitar otak
Diambil kelenjar hipofisa (warna putih) menggunakan tusuk gigi
Diletakkan pada wadah
3.      Pembuatan ekstrak hipofisa
Diambil hipofisa
Diletakkan pada gelas piala + aquabidest 1 ml, digerus hingga halus
Disentrifuge secara manual (±10’)
Diambil cairan
4.      Penyuntikan cairan hipofisa
Cairan hipofisa
Disuntikkan pada resipien dengan dosis:
Betina= 0,68 ml
Jantan= 0,27 ml
5.      Pengawetan kelenjar hipofisa
Kelenjar hipofisa (basah)
Direndam dengan alkohol 70% selama 24 jam

D.    HASIL PENGAMATAN
Ikan donor
Berat (gram)
Jantan
500
Betina
500

Hasil ekstrak
Dosis (ml)
Jantan
0,54
Betian
0,68

Dosis yang diberikan :
-          Ikan mas jantan                     = 0,54 x ½ = 0,27 ml
-          Ikan mas betina                     = 0,68 x 1 = 0,68 ml


E.     PEMBAHASAN
Hipofisa adalah suatu kelenjar endokrin yang terletak dalam sela tursica, yaitu sebuah lekukan dalam tulang stenoid. Menurut Hoar (1957), hipofisa terdiri dari dua kelenjar yaitu kelenjar neuron dan adenohypofisa yang merupakan bagian terbesar dari kelenjar dan memiliki tiga ruangan yaitu proximal pars distalis, rostal pars distalis dan pars intermedia. Hipofisa terletak pada bagian bawah otak dan menghasilkan hormon GnRH, ACTH, TSH, LH, STH. Prolactin, Vasoprsin dan Oksitosin (Yushinta, 2004). Secara umum, hormone tersebut berfungsi untuk mengatur pertumbuhan, perkembangan, metabolisme, reproduksi, tingkah laku dan haemostatis. Hipofisa dalam menghasilkan gonadotropin dipengaruhi oleh produksi horman ovarium melalui sistem umpan balik.
Hipofisasi adalah usaha untuk merangsang ikan yang matang gonad atau terjadi ovulasi atau pemijahan dengan suntikan ekstrak kelenjar hipofisa (Susanto, 2001; Fujaya, 2004; Zairin, 2013). Hipofisasi merupakan metode yang praktis dan sederhana, meskipun potensi gonadotropin dari kelenjar hipofisa yang digunakan sering tidak dapat atau sulit untuk diukur. Kelenjar hipofisa yang digunakan untuk hipofisasi dapat berupa kelenjar yang masih segar maupun yang telah diawetkan. Dalam hopofisasi, bila ikan donor yang digunakan sama dengan resipien maka hipofisai tersebut dikatakan sebagai hipofisasi secara homoplastik, sedangkan bila tidak sama dikatakan sebagai hipofisasi heteroplastik (Zairin, 2013).
Pemijahan ikan secara buatan mulai dikenal sejak tahun 1943 di Brazil dengan teknik hipofisasi untuk merangsang ovulasi pada indukan betina (Nijmiyati,et al., 2006). Dalam kegiatan budidaya dan pembenihan ikan, terdapat beberapa jenis ikan yang tidak mampu memijah secara spontan atau memijah hanya dalam waktu tertentu saja. Hal ini berkaitan dengan kondisi ikan di dalam kolam budidaya yang tidak cukup mendapat stimulasi bagi berfungsinya kelenjar endokrin reproduksi. Ikan-ikan tersebut misalnya patin, lele, bawal air tawar yang memutuhkan indicator hormone dari LHRH-nya yang secara alami terganggu oleh mekanisme introduksi budidaya. Dengan demikian teknik hipofisasi dilakukan dengan tujuan untuk menigkatkan kadar hormone LH pada ikan yang kadarnya tidak cukup menghasilkan kematangan gonad tingkat akhir dan ovulasi pada betina. Dengan adanya induksi hormone dalam pemijahan buatan maka proses dari kematangan gonad akan semamin cepat terjadi.

Berikut ini adalah beberapa kunci keberhasilan hipofisasi beserta dengan faktor-faktornya menurut Zairin (2013) :
-          Ikan donor harus benar-benar sehat sehingga tidak menularkan penyakit
-          Ikan donor harus benar-benar matang gonad sehingga kandungan gonadotropinnya banyak
-          Ikan donor dan resipien sebaiknya masih dalam satu keluarga
-          Induk ikan resipien harus benar-benar matang gonad agar kemungkinan gagal dapat dikurangi
-          Induk yang digunakan harus sehat agar hormone dapat bekerja dengan baik
-          Induk ikan yang digunakan tidak mengalami kecacatan agar diperoleh anakan yang bagus
-          Kondisi lingkungan pada saat kawin suntik harus mendukung
Ø  Kandungan oksigen tinggi
Ø  Amoniak rendah
Ø  Suhu optimum
Bila dibandingkan dengan metode lain, teknik hipofisasi memiliki kelebihan. Diantara kelebihan tersebut antara lain yaitu kelenjar hipofisa mudah didapat, dapat disimpan didalam aseton dingin dan kering beku dan harganya relative murah. Selain kelebihan yang dimilikinya, metode ini juga memiliki beberapa kelemahan yaitu kandungan gonadotropin hipofisa yang digunakan sangat bervariasi dan tidak dapat diketahui secara pasti sehingga dosis tidak tepat, kerja hormone sangat spesifik (untuk hipofisasi heteroplastik), kemungkinan adanya efek imunitas jika induk sering di hipofisasi dan kemungkinan adanya efek samping karena selain LH dan FSH, hipofisa juga berisi hormone lain seperti Prolactin, hormone pertumbuhan, TSH, ACTH dan Somatolaktin (Zairin, 2013).
Ikan mas, Common carp merupakan salah satu komditas perikanan air tawar yang telah banyak dikembangkan hampir diseluruh kawasan yang diperkirakan 4000 tahun yang lalu dan beberapa tahun yang lalu dikawasan daratan Eropa (Wohlfart, 1984 dalam Hulata, 1995). Menurut Maswardi (2000) ikan mas dengan nama latin Cyprinus carpio memiliki klasifikasi sebagai berikut :
-          Kingdom       : Animalia
-          Filum             : Chordata
-          Klas               : Pisces
-          Ordo              : Oatariophysi
-          Subordo         : Cyprinodea
-          Family            : Cyprinodae
-          Subfamily      : Cyprinae
-          Genus            : Cyprinus
-          Spesies           : Cyprinus carpio Linn

Di Indonesia, ikan mas dapat hidup di daerah dengan ketinggian hingga 1200 mdpl dan daerah optimum berkisar antara 150 - 600 m. Induk ikan mas betina mulai memijah berukuran 1,5 – 3,0 Kg. Ikan mas jantan rata-rata berumur 6 – 8 bulan telah memproduksi sperma dengan rata-rata jumlah sperma mencapai (1,9 ± 0,2) 1012 ekor spermatozoa/Kg bobot tubuh jantan dan terus akan disimpan dalam testis sebelum dikeluarkan saat pemijahan (Billard, et al., 1995). Secara singkat, cirri-ciri ikan mas betina yang siap pijah atau matang gonad adalah pergerakan ikan lamban, pada malam hari perilaku ikan sering meloncat-loncat keatas permukaan air, perut membesar/ buncit ke arah belakang, jika diraba terasa lunak serta lubang anus agak membengkak/ menonjol dan berwarna kemerahan. Sedangkan ciri-ciri untuk ikan mas jantan yang matang gonad memperlihatkan gerakan yang lincah dan mengeluarkan cairan berwarna putih (sperma) dari lubang kelamin bila dipijat (Athif, 2011).
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam hipofisasi meliputi :
1.      Pemilihan donor
Ikan donor merupakan ikan yang nantinya akan diambil kelenjar hipofisanya dan didonorkan pada ikan resipien. Ikan resipien merupakan ikan yang nantinya akan menerima suntikan hipofisa dari ikan donor. Pemilihan ikan donor harus mempertimbangkan ukuran ikan (0,5 kg) dan yang sudah matang gonad, bukan ikan yang baru dipijahkan serta ikan yang digunakan masih dalam satu famili.
2.      Pengambilan kelenjar hipofisa
Setelah pemilihan ikan donor, langkah selanjutnya adalah pengambilan kelenjar hipofisa. Langkah-langkah pengambilan kelenjar hipofisa adalah sebagai berikut yaitu sampel ikan donor yang telah matang kelamin, tetapi tidak yang baru memijah atau selesai memijah. Menurut Murtidjo (2001), ikan karper yang sudah matipun dapat diambil hipofisanya asalkan kematian ikan tesebut tidak lebih dari 5 jam ataupun masih tergolong dalam ikan yang segar. Selanjutnya ikan donor diletakkan diatas meja dan dipotong kepalanya persis ditepi operculum ikan, kemudian kepala ikan yang sudah terpotong diletakkan dengan posisi mulut menghadap atas.  Kepala ikan donor yang menghadap ke atas tersebut disayat dengan pisau/golok mulai dari dekat hidung kebawah tengkorak sehingga otak dapat terlihat dengan jelas. Lemak dan darah yang berada disekitar dan menyelimuti otak disingkirkan dan dibersihkan dengan menggunakan tissue dan saraf sebelah depan dipotong dengan gunting ataupun cukup dengan menepikannya saja dan otak ikan diangkat. Kelenjar hipofisa akan terlihat pada sella tursica seperti biji kemiri berwarna putih dengan ukuran yang relative kecil. Hipofisa tersebut dapat diambil dengan tusuk gigi dan diusahakan agar kelenjar hipofisa tersebut tidak pecah. Kelenjar hipofisa yang sudah diambil kemudian dipisahkan paa wadah yang telah disediakan.
3.      Pembuatan ekstrak hipofisa
Kelenjar hipofisa yang masih segar dapat langsung digeruskan dengan perangkat berupa gelas piala, dimana hipofisa 1-2 butir dimasukkan kedalam gelas piala dan ditambahkan dengan 1 ml aquabidest dan kemudian digerus hingga halus. Jika proses penggerusan dianggap cukup, gerusan kelenjar hipofisa dipisahkan atau ditampung pada tabung. Pemindahan kelenjar hipofisa yang telah selesai digerus dapat dipindahkan dengan menggunakan spuit atau dapat dituang secara langsung. Kelenjar hipofisa yang ada didalam tabung kemudian digojok atau di sentrifuge secara manual dalam waktu ± 10 menit supaya terjadi pengendapan jaringan-jaringan yang kasar. Setelah dilakukan pengendapan sebentar, suspensi yang jernih dan bening diambil sebagai bahan untuk penyuntikan ikan resipien.
4.      Cara penggunaan suspensi atau penyuntikan
Menurut Murtidjo (2001), induk ikan betina yang dijadikan sebagai resipien atau yang akan dibiakkan dengan cara hipofisasi harus sudah matang telur dan untuk ikan jantan harus sudah matang sperma dan kedua-duanya dalam keadaan yang sehat. Cairan hipofisa yang sudah disediakan, diambil dengan alat berupa suntik dan disuntikkan denga dosis masing-masing 0,68 ml untuk indukan betina dan 0,27 ml untuk indukan jantan. Penyuntikan dilakukan secara intramuscular yaitu pada otot punggung atau pangkal ekor. Mula-mula jarum ditusukkan secara perlahan diantara sisik lalu disuntikkan kedalam otot.


5.      Pengawetan kelenjar hipofisa
Kelenjar hipofisa yang tidak segera digunakan dapat diawetkan dengan menyimpannya dalam alkohol 70% yang direndam selama 24 jam. Murtidjo (2001) menambahkan pengawetan kelenjar hipofisa dapat dilakukan dengan alcohol dan aseton. Caranya, kelenjar hipofisa disimpan dalam botol kecil berwarna gelap yang telah diisi alkohol dan diletakkan pada suhu kamar. Penyimpanan kelenjar hipofisa yang dilakukan denga baik sanggup bertahan dalam waktu sampai 2 tahun, namun sebaiknya sesegeranya langsung digunakan.
Perkembangan gamet betina atau disebut juga dengan oogenesis terjadi dalam ovarium. Oogenesis adalah proses kompleks yang secara keseluruhan merupakan pengumpulan kuning telur. Perkembangan gamet betina meliputi tahap-tahap perkembangan telur (awal pertumbuhan, tahap pembentukan kuning telur, tahap vitellogenesis dan tahap pematangan) serta ovulasi. Proses ovulasi terjadi dengan cepat setelah mengalami pematangan dan mengakibatkan pecahnya dinding folikel, pada waktu yang bersamaan sel-sel mikropil yang menutupi lubang mikropil berpisah sehingga spermatozoa dapat menembus korion setelah telut dikeluarkan/ oviposition. Pecahnya dinding folikel ini diduga disebabkan oleh pengaruh hormone prostaglandin (Yushinta, 2004).  Menurut Goetz (1983 dalam Lam, 1985), prostaglandin mungkin merupakan mediator aksi gonadotropin terhadap ovulasi atau pecahnya dinding folikel.
Perkembangan gamet jantan meliputi spermatogenesis, spermiasi, biokimiawi cairan seminal, motilitas dan metabolism sperma serta penyimpanan sperma diluar tubuh. Proses spermiasi berhubungan dengan pelepasan spermatozoa dari lumen lobules masuk kedalam saluran sperma. Pelepasan ini mungkin disebabkan oleh kenaikan tekanan hydrostatik didalam lobul untuk mengeluarkan cairan-cairan oleh sel-sel sertoli dan dibawah rangsangan gonadotropin. Spermatozoa kemudian didorong kedalam sistem pengeluaran, disini akan bercampur dengan cairan sperma (milt) (Yushinta, 2004). Perangsangan perkembangbiakan sperma tidak lepas dari peran serta hormone androgen, yakni testosterone. Sedangkan testosterone yang memegang peranan utama pada spermatogenesis dan spermiasi adalah 11- ketotestosteron (11- KT). 11 KT selanjutnya akan merangsang sel-sel sertoli sehingga aktif menstimulasi pembelahan mitosis spermatogonia dan menyempurnakan spermatogenesis (Harder, 1975).
Ovaprim adalah hormon analog yang mengandung 20 µg analog salmon gonadotrofin releasing hormon (sGnRH) LHRH, dan 10 µg domperidone yakni sejenis anti dopamin per milliliter. Ovaprim berfungsi sebagai agen perangsang pemijahan yang dibuat dari campuran ekstrak kelenjar hipofisa dan hormon mammalian (Nandeesha, et al., 1990; Zairin, 2006; Fikriadi, et al., 2012). Ovaprim digunakan sebagai agen perangsang bagi ikan untuk memijah dimana mekanisme kerja ovaprim pada ikan adalah kandungan GnRH a  akan menstimulus pituatari untuk mensekresikan GtH I dan GtH II. Sedangkan anti dopamine menghambat hipotalamus dalam mensekresi dopamine yang memerintahkan pituatari mengentikan sekresi GtH I dan GtH II.
Contoh dosis penyuntikan ovaprim dalam merangsang pemijahan ikan adalah sebagai berikut :
Betina (1 dosis)                     suntikan pertama         1/3 dosis
                                               suntikan kedua            2/3 dosis
Jantan (½ dosis)                     sekali suntuk               ½ dosis
Misalkan ikan yang disuntk adalah ikan patin albino bermata merah. Hormone yang akan disuntikkan adalah ovaprim dengan dosis 0,75 ml/kg induk. Bobot induk betina 3 kg dan jantan 2 kg. Jumlah ovaprim yang dibutuhkan adalah sebagai berikut:
1.      Untuk suntikkan pertama pada betina
(1/3) x 0,75 ml/kg x 3 kg bobot tubuh betina = 0,75 ml ovaprim.
2.      Untuk suntikkan kedua pada betina
(2/3) x 0,75 ml/kg x 3 kg bobot tubuh betina = 1,2 ml ovaprim.
3.      Untuk suntikan pada jantan
(1/2) x 0,75 ml/kg x 2 kg bobot tubuh jantan = 0,75 ml ovaprim.
Berbeda halnya dengan ikan selais (Ompok rhadhinurus, Ng) penyuntikan ovaprim dengan dosis 0,3 ml denga waktu laten 6 jam dapat menekan jumlah telur sebanyak 2800 butir. Pertambahan diameter telur, pertambahan kematangan telur mencapai 11,6% dan meningkatkan nilai indeks ovi somatik (IOS) hingga 14,78% (Fikriadi, et al., 2012).
Menurut Zairin (2006), ada beberapa kelebihan dan kelemahan penyuntikan dengan ovaprim, yaitu:
Kelebihan
-          Merangsang pematangan gonad sebelum musim pemijahan,
-          Mempersingkat periode pemijahan,
-          Mempertahankan materi genetic, serta
-          Memaksimalkan potensi reproduksi.
Kelemahan
-          Dosis yang digunakan harus banyak, dan
-          Harga relative mahal.
Metode ovaprim lebih efektif daripada metode hipofisasi karena tidak perlu ikan donor, potensi ikan resipien tertular penyakit dapat diminimalisasi, potensi atau keberhasilan besar, akan tetapi tidak seekonomis metode hipofisasi dan dosis penyuntikan harus banyak pada metode ovaprim.

F.     KESIMPULAN
-          Teknik hipofisasi pada ikan sangatlah penting dalam proses pembenihan, sehingga dapat menunjang produktivitas pembenihan.
-          Teknik hipofisasi dapat dilakukan secara sederhana yaitu pemilihan ikan donor, pengambilan kelenjar hipofisa, pembuatan ekstrak hipofisa, penyuntikan dan pengawetan.
-          Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan hipofisasi meliputi kesehatan ikan donor dan resipien yang tidak mengalami kecacatan, masih dalam satu famili, telah matang gonadnya dan kondisi lingkungan saat proses penyuntikan harus diperhatikan serta kualitas air seperti kandungan oksigen yang tinggi, kadar ammonia rendah dan suhu yang optimum.









DAFTAR PUSTAKA
Athif, Imadudin. 2011. Peluang Bisnis Budidaya Ikan Mas. STMIK AMIKOM Yogyakarta. Yogyakarta
Billard, R., J, Cosson., G, Percec and O. Linhart. 1995. Biology of Sperm and Artifical Reproduction In Carp. Aquaculture 129: 95-112
Fikriadi, Edi., Nuraini and Alawi, Hamdan. 2012. The Effect of Ovaprim Doses and Latency Time on Ovulation of Sheatfish ( Ompok rhadinurus Ng). Faculty of Fishery and Marine Science. Riau University
Harder, W. 1975. Anatomy of Fihes Part II. Figures and Plates. E. Schweizerbart’sce Verlagsbuchhandlung. 132
Hoar , W. S. 1957. The Endocryne Organs. Academic Press. New York
Hulata, G. 1995. The Review of Genetic Improvement of Common Carp (Cyprinus carpio) and The Other Cyprinids By Crossbreeding, Hybridization and Selection. Special Issue. The Carp. Aquaculture 129: 143-155
Lam, T. J. 1985. Induced Spawning in Fish. Oceanic Institute and Tungkang Marine Laboratory. Taiwan
Maswardi, Ambas. 2000. Perbedaan Antara Betina dan Jantan Ikan Mas (Cyprinus carpio L) dalam Beberapa Karakter Kuantitatif. Program Studi Ilmu Perairan. Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor
Murtidjo, B. A. 2001. Beberapa Metode Pembenihan Ikan Air Tawar. Kanisius. Yogyakarta
Najmiyati, E., Lisyastusi, Esi dan Hedianto, Y. E. 2006. Biopotensi Kelenjar Hipofisis Ikan Patin (Pangasius pangasius) Setelah Penyimpanan Kering Selama 0, 1, 2, 3 dan 4 Bulan. Balai Teknologi Lingkungan. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi. Jakarta. Jurnal Teknik Lingkungan Vol.7, No.3, 311-316
Nandeesha, M.C., Kondapalli G Rao, Rama N Jayanna, Nick C Parker, T.J. Varghese, Perar Keshavanath, and Handady P.C. S. 1990. Induced Spawning of Indian Major Carps through Single Aplication of Ovaprim-C. The 2nd  Asian Fisheries Forum Society, Manila, Philippines
Susanto, H. 2001. Teknik Kawin Suntik Ikan Ekonomis. Penebar Swadaya. Jakarta
Yushinta, F. 2004. Fisiologi Ikan: Dasar Pengembangan Teknik Perikanan. Rineka cipta. Jakarta
Zairin, M. 2006. Perkembangan dan Penerapan Bioteknologi Reproduksi Dalam Bidang Perikanan Indonesia. IPB Press, Bogor.
Zairin, M. 2013. Kiat Memijahkan Ikan Hias Secara Teratur. Digreat Publishing. Bogor