Minggu, 05 Januari 2014

HIPOFISASI

HIPOFISASI
AHMAD HUSEIN
11/313633/PN/12327
A.    TUJUAN
-          Mengetahui arti penting hipofisasi pada ikan
-          Mengetahui cara melakukan hipofisasi pada ikan
-          Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan hipofisasi

B.     ALAT DAN BAHAN
Alat:                                                                Bahan
-          Pisau atau golok                                - Ikan mas (Cyprinus carpio)
-          Spuit                                                  - Aquabidest
-          Jarum/tusuk gigi                                - Kapas
-          Sentrifuge                                          - Alkohol 70%
-          Timbangan
-          Gelas piala

C.    CARA KERJA
1.      Pemilihan ikan donor
-          Ikan mas (Cyprinus carpio)
-          Indukan jantan dengan bobot 500 gram
2.      Pengambilan kelenjar hipofisa
Kepala ikan dipotong hingga putus
Dihadapkan ke atas, dipotong dari lubang dekat hidung
Dibersihkan bagian sekitar otak
Diambil kelenjar hipofisa (warna putih) menggunakan tusuk gigi
Diletakkan pada wadah
3.      Pembuatan ekstrak hipofisa
Diambil hipofisa
Diletakkan pada gelas piala + aquabidest 1 ml, digerus hingga halus
Disentrifuge secara manual (±10’)
Diambil cairan
4.      Penyuntikan cairan hipofisa
Cairan hipofisa
Disuntikkan pada resipien dengan dosis:
Betina= 0,68 ml
Jantan= 0,27 ml
5.      Pengawetan kelenjar hipofisa
Kelenjar hipofisa (basah)
Direndam dengan alkohol 70% selama 24 jam

D.    HASIL PENGAMATAN
Ikan donor
Berat (gram)
Jantan
500
Betina
500

Hasil ekstrak
Dosis (ml)
Jantan
0,54
Betian
0,68

Dosis yang diberikan :
-          Ikan mas jantan                     = 0,54 x ½ = 0,27 ml
-          Ikan mas betina                     = 0,68 x 1 = 0,68 ml


E.     PEMBAHASAN
Hipofisa adalah suatu kelenjar endokrin yang terletak dalam sela tursica, yaitu sebuah lekukan dalam tulang stenoid. Menurut Hoar (1957), hipofisa terdiri dari dua kelenjar yaitu kelenjar neuron dan adenohypofisa yang merupakan bagian terbesar dari kelenjar dan memiliki tiga ruangan yaitu proximal pars distalis, rostal pars distalis dan pars intermedia. Hipofisa terletak pada bagian bawah otak dan menghasilkan hormon GnRH, ACTH, TSH, LH, STH. Prolactin, Vasoprsin dan Oksitosin (Yushinta, 2004). Secara umum, hormone tersebut berfungsi untuk mengatur pertumbuhan, perkembangan, metabolisme, reproduksi, tingkah laku dan haemostatis. Hipofisa dalam menghasilkan gonadotropin dipengaruhi oleh produksi horman ovarium melalui sistem umpan balik.
Hipofisasi adalah usaha untuk merangsang ikan yang matang gonad atau terjadi ovulasi atau pemijahan dengan suntikan ekstrak kelenjar hipofisa (Susanto, 2001; Fujaya, 2004; Zairin, 2013). Hipofisasi merupakan metode yang praktis dan sederhana, meskipun potensi gonadotropin dari kelenjar hipofisa yang digunakan sering tidak dapat atau sulit untuk diukur. Kelenjar hipofisa yang digunakan untuk hipofisasi dapat berupa kelenjar yang masih segar maupun yang telah diawetkan. Dalam hopofisasi, bila ikan donor yang digunakan sama dengan resipien maka hipofisai tersebut dikatakan sebagai hipofisasi secara homoplastik, sedangkan bila tidak sama dikatakan sebagai hipofisasi heteroplastik (Zairin, 2013).
Pemijahan ikan secara buatan mulai dikenal sejak tahun 1943 di Brazil dengan teknik hipofisasi untuk merangsang ovulasi pada indukan betina (Nijmiyati,et al., 2006). Dalam kegiatan budidaya dan pembenihan ikan, terdapat beberapa jenis ikan yang tidak mampu memijah secara spontan atau memijah hanya dalam waktu tertentu saja. Hal ini berkaitan dengan kondisi ikan di dalam kolam budidaya yang tidak cukup mendapat stimulasi bagi berfungsinya kelenjar endokrin reproduksi. Ikan-ikan tersebut misalnya patin, lele, bawal air tawar yang memutuhkan indicator hormone dari LHRH-nya yang secara alami terganggu oleh mekanisme introduksi budidaya. Dengan demikian teknik hipofisasi dilakukan dengan tujuan untuk menigkatkan kadar hormone LH pada ikan yang kadarnya tidak cukup menghasilkan kematangan gonad tingkat akhir dan ovulasi pada betina. Dengan adanya induksi hormone dalam pemijahan buatan maka proses dari kematangan gonad akan semamin cepat terjadi.

Berikut ini adalah beberapa kunci keberhasilan hipofisasi beserta dengan faktor-faktornya menurut Zairin (2013) :
-          Ikan donor harus benar-benar sehat sehingga tidak menularkan penyakit
-          Ikan donor harus benar-benar matang gonad sehingga kandungan gonadotropinnya banyak
-          Ikan donor dan resipien sebaiknya masih dalam satu keluarga
-          Induk ikan resipien harus benar-benar matang gonad agar kemungkinan gagal dapat dikurangi
-          Induk yang digunakan harus sehat agar hormone dapat bekerja dengan baik
-          Induk ikan yang digunakan tidak mengalami kecacatan agar diperoleh anakan yang bagus
-          Kondisi lingkungan pada saat kawin suntik harus mendukung
Ø  Kandungan oksigen tinggi
Ø  Amoniak rendah
Ø  Suhu optimum
Bila dibandingkan dengan metode lain, teknik hipofisasi memiliki kelebihan. Diantara kelebihan tersebut antara lain yaitu kelenjar hipofisa mudah didapat, dapat disimpan didalam aseton dingin dan kering beku dan harganya relative murah. Selain kelebihan yang dimilikinya, metode ini juga memiliki beberapa kelemahan yaitu kandungan gonadotropin hipofisa yang digunakan sangat bervariasi dan tidak dapat diketahui secara pasti sehingga dosis tidak tepat, kerja hormone sangat spesifik (untuk hipofisasi heteroplastik), kemungkinan adanya efek imunitas jika induk sering di hipofisasi dan kemungkinan adanya efek samping karena selain LH dan FSH, hipofisa juga berisi hormone lain seperti Prolactin, hormone pertumbuhan, TSH, ACTH dan Somatolaktin (Zairin, 2013).
Ikan mas, Common carp merupakan salah satu komditas perikanan air tawar yang telah banyak dikembangkan hampir diseluruh kawasan yang diperkirakan 4000 tahun yang lalu dan beberapa tahun yang lalu dikawasan daratan Eropa (Wohlfart, 1984 dalam Hulata, 1995). Menurut Maswardi (2000) ikan mas dengan nama latin Cyprinus carpio memiliki klasifikasi sebagai berikut :
-          Kingdom       : Animalia
-          Filum             : Chordata
-          Klas               : Pisces
-          Ordo              : Oatariophysi
-          Subordo         : Cyprinodea
-          Family            : Cyprinodae
-          Subfamily      : Cyprinae
-          Genus            : Cyprinus
-          Spesies           : Cyprinus carpio Linn

Di Indonesia, ikan mas dapat hidup di daerah dengan ketinggian hingga 1200 mdpl dan daerah optimum berkisar antara 150 - 600 m. Induk ikan mas betina mulai memijah berukuran 1,5 – 3,0 Kg. Ikan mas jantan rata-rata berumur 6 – 8 bulan telah memproduksi sperma dengan rata-rata jumlah sperma mencapai (1,9 ± 0,2) 1012 ekor spermatozoa/Kg bobot tubuh jantan dan terus akan disimpan dalam testis sebelum dikeluarkan saat pemijahan (Billard, et al., 1995). Secara singkat, cirri-ciri ikan mas betina yang siap pijah atau matang gonad adalah pergerakan ikan lamban, pada malam hari perilaku ikan sering meloncat-loncat keatas permukaan air, perut membesar/ buncit ke arah belakang, jika diraba terasa lunak serta lubang anus agak membengkak/ menonjol dan berwarna kemerahan. Sedangkan ciri-ciri untuk ikan mas jantan yang matang gonad memperlihatkan gerakan yang lincah dan mengeluarkan cairan berwarna putih (sperma) dari lubang kelamin bila dipijat (Athif, 2011).
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam hipofisasi meliputi :
1.      Pemilihan donor
Ikan donor merupakan ikan yang nantinya akan diambil kelenjar hipofisanya dan didonorkan pada ikan resipien. Ikan resipien merupakan ikan yang nantinya akan menerima suntikan hipofisa dari ikan donor. Pemilihan ikan donor harus mempertimbangkan ukuran ikan (0,5 kg) dan yang sudah matang gonad, bukan ikan yang baru dipijahkan serta ikan yang digunakan masih dalam satu famili.
2.      Pengambilan kelenjar hipofisa
Setelah pemilihan ikan donor, langkah selanjutnya adalah pengambilan kelenjar hipofisa. Langkah-langkah pengambilan kelenjar hipofisa adalah sebagai berikut yaitu sampel ikan donor yang telah matang kelamin, tetapi tidak yang baru memijah atau selesai memijah. Menurut Murtidjo (2001), ikan karper yang sudah matipun dapat diambil hipofisanya asalkan kematian ikan tesebut tidak lebih dari 5 jam ataupun masih tergolong dalam ikan yang segar. Selanjutnya ikan donor diletakkan diatas meja dan dipotong kepalanya persis ditepi operculum ikan, kemudian kepala ikan yang sudah terpotong diletakkan dengan posisi mulut menghadap atas.  Kepala ikan donor yang menghadap ke atas tersebut disayat dengan pisau/golok mulai dari dekat hidung kebawah tengkorak sehingga otak dapat terlihat dengan jelas. Lemak dan darah yang berada disekitar dan menyelimuti otak disingkirkan dan dibersihkan dengan menggunakan tissue dan saraf sebelah depan dipotong dengan gunting ataupun cukup dengan menepikannya saja dan otak ikan diangkat. Kelenjar hipofisa akan terlihat pada sella tursica seperti biji kemiri berwarna putih dengan ukuran yang relative kecil. Hipofisa tersebut dapat diambil dengan tusuk gigi dan diusahakan agar kelenjar hipofisa tersebut tidak pecah. Kelenjar hipofisa yang sudah diambil kemudian dipisahkan paa wadah yang telah disediakan.
3.      Pembuatan ekstrak hipofisa
Kelenjar hipofisa yang masih segar dapat langsung digeruskan dengan perangkat berupa gelas piala, dimana hipofisa 1-2 butir dimasukkan kedalam gelas piala dan ditambahkan dengan 1 ml aquabidest dan kemudian digerus hingga halus. Jika proses penggerusan dianggap cukup, gerusan kelenjar hipofisa dipisahkan atau ditampung pada tabung. Pemindahan kelenjar hipofisa yang telah selesai digerus dapat dipindahkan dengan menggunakan spuit atau dapat dituang secara langsung. Kelenjar hipofisa yang ada didalam tabung kemudian digojok atau di sentrifuge secara manual dalam waktu ± 10 menit supaya terjadi pengendapan jaringan-jaringan yang kasar. Setelah dilakukan pengendapan sebentar, suspensi yang jernih dan bening diambil sebagai bahan untuk penyuntikan ikan resipien.
4.      Cara penggunaan suspensi atau penyuntikan
Menurut Murtidjo (2001), induk ikan betina yang dijadikan sebagai resipien atau yang akan dibiakkan dengan cara hipofisasi harus sudah matang telur dan untuk ikan jantan harus sudah matang sperma dan kedua-duanya dalam keadaan yang sehat. Cairan hipofisa yang sudah disediakan, diambil dengan alat berupa suntik dan disuntikkan denga dosis masing-masing 0,68 ml untuk indukan betina dan 0,27 ml untuk indukan jantan. Penyuntikan dilakukan secara intramuscular yaitu pada otot punggung atau pangkal ekor. Mula-mula jarum ditusukkan secara perlahan diantara sisik lalu disuntikkan kedalam otot.


5.      Pengawetan kelenjar hipofisa
Kelenjar hipofisa yang tidak segera digunakan dapat diawetkan dengan menyimpannya dalam alkohol 70% yang direndam selama 24 jam. Murtidjo (2001) menambahkan pengawetan kelenjar hipofisa dapat dilakukan dengan alcohol dan aseton. Caranya, kelenjar hipofisa disimpan dalam botol kecil berwarna gelap yang telah diisi alkohol dan diletakkan pada suhu kamar. Penyimpanan kelenjar hipofisa yang dilakukan denga baik sanggup bertahan dalam waktu sampai 2 tahun, namun sebaiknya sesegeranya langsung digunakan.
Perkembangan gamet betina atau disebut juga dengan oogenesis terjadi dalam ovarium. Oogenesis adalah proses kompleks yang secara keseluruhan merupakan pengumpulan kuning telur. Perkembangan gamet betina meliputi tahap-tahap perkembangan telur (awal pertumbuhan, tahap pembentukan kuning telur, tahap vitellogenesis dan tahap pematangan) serta ovulasi. Proses ovulasi terjadi dengan cepat setelah mengalami pematangan dan mengakibatkan pecahnya dinding folikel, pada waktu yang bersamaan sel-sel mikropil yang menutupi lubang mikropil berpisah sehingga spermatozoa dapat menembus korion setelah telut dikeluarkan/ oviposition. Pecahnya dinding folikel ini diduga disebabkan oleh pengaruh hormone prostaglandin (Yushinta, 2004).  Menurut Goetz (1983 dalam Lam, 1985), prostaglandin mungkin merupakan mediator aksi gonadotropin terhadap ovulasi atau pecahnya dinding folikel.
Perkembangan gamet jantan meliputi spermatogenesis, spermiasi, biokimiawi cairan seminal, motilitas dan metabolism sperma serta penyimpanan sperma diluar tubuh. Proses spermiasi berhubungan dengan pelepasan spermatozoa dari lumen lobules masuk kedalam saluran sperma. Pelepasan ini mungkin disebabkan oleh kenaikan tekanan hydrostatik didalam lobul untuk mengeluarkan cairan-cairan oleh sel-sel sertoli dan dibawah rangsangan gonadotropin. Spermatozoa kemudian didorong kedalam sistem pengeluaran, disini akan bercampur dengan cairan sperma (milt) (Yushinta, 2004). Perangsangan perkembangbiakan sperma tidak lepas dari peran serta hormone androgen, yakni testosterone. Sedangkan testosterone yang memegang peranan utama pada spermatogenesis dan spermiasi adalah 11- ketotestosteron (11- KT). 11 KT selanjutnya akan merangsang sel-sel sertoli sehingga aktif menstimulasi pembelahan mitosis spermatogonia dan menyempurnakan spermatogenesis (Harder, 1975).
Ovaprim adalah hormon analog yang mengandung 20 µg analog salmon gonadotrofin releasing hormon (sGnRH) LHRH, dan 10 µg domperidone yakni sejenis anti dopamin per milliliter. Ovaprim berfungsi sebagai agen perangsang pemijahan yang dibuat dari campuran ekstrak kelenjar hipofisa dan hormon mammalian (Nandeesha, et al., 1990; Zairin, 2006; Fikriadi, et al., 2012). Ovaprim digunakan sebagai agen perangsang bagi ikan untuk memijah dimana mekanisme kerja ovaprim pada ikan adalah kandungan GnRH a  akan menstimulus pituatari untuk mensekresikan GtH I dan GtH II. Sedangkan anti dopamine menghambat hipotalamus dalam mensekresi dopamine yang memerintahkan pituatari mengentikan sekresi GtH I dan GtH II.
Contoh dosis penyuntikan ovaprim dalam merangsang pemijahan ikan adalah sebagai berikut :
Betina (1 dosis)                     suntikan pertama         1/3 dosis
                                               suntikan kedua            2/3 dosis
Jantan (½ dosis)                     sekali suntuk               ½ dosis
Misalkan ikan yang disuntk adalah ikan patin albino bermata merah. Hormone yang akan disuntikkan adalah ovaprim dengan dosis 0,75 ml/kg induk. Bobot induk betina 3 kg dan jantan 2 kg. Jumlah ovaprim yang dibutuhkan adalah sebagai berikut:
1.      Untuk suntikkan pertama pada betina
(1/3) x 0,75 ml/kg x 3 kg bobot tubuh betina = 0,75 ml ovaprim.
2.      Untuk suntikkan kedua pada betina
(2/3) x 0,75 ml/kg x 3 kg bobot tubuh betina = 1,2 ml ovaprim.
3.      Untuk suntikan pada jantan
(1/2) x 0,75 ml/kg x 2 kg bobot tubuh jantan = 0,75 ml ovaprim.
Berbeda halnya dengan ikan selais (Ompok rhadhinurus, Ng) penyuntikan ovaprim dengan dosis 0,3 ml denga waktu laten 6 jam dapat menekan jumlah telur sebanyak 2800 butir. Pertambahan diameter telur, pertambahan kematangan telur mencapai 11,6% dan meningkatkan nilai indeks ovi somatik (IOS) hingga 14,78% (Fikriadi, et al., 2012).
Menurut Zairin (2006), ada beberapa kelebihan dan kelemahan penyuntikan dengan ovaprim, yaitu:
Kelebihan
-          Merangsang pematangan gonad sebelum musim pemijahan,
-          Mempersingkat periode pemijahan,
-          Mempertahankan materi genetic, serta
-          Memaksimalkan potensi reproduksi.
Kelemahan
-          Dosis yang digunakan harus banyak, dan
-          Harga relative mahal.
Metode ovaprim lebih efektif daripada metode hipofisasi karena tidak perlu ikan donor, potensi ikan resipien tertular penyakit dapat diminimalisasi, potensi atau keberhasilan besar, akan tetapi tidak seekonomis metode hipofisasi dan dosis penyuntikan harus banyak pada metode ovaprim.

F.     KESIMPULAN
-          Teknik hipofisasi pada ikan sangatlah penting dalam proses pembenihan, sehingga dapat menunjang produktivitas pembenihan.
-          Teknik hipofisasi dapat dilakukan secara sederhana yaitu pemilihan ikan donor, pengambilan kelenjar hipofisa, pembuatan ekstrak hipofisa, penyuntikan dan pengawetan.
-          Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan hipofisasi meliputi kesehatan ikan donor dan resipien yang tidak mengalami kecacatan, masih dalam satu famili, telah matang gonadnya dan kondisi lingkungan saat proses penyuntikan harus diperhatikan serta kualitas air seperti kandungan oksigen yang tinggi, kadar ammonia rendah dan suhu yang optimum.









DAFTAR PUSTAKA
Athif, Imadudin. 2011. Peluang Bisnis Budidaya Ikan Mas. STMIK AMIKOM Yogyakarta. Yogyakarta
Billard, R., J, Cosson., G, Percec and O. Linhart. 1995. Biology of Sperm and Artifical Reproduction In Carp. Aquaculture 129: 95-112
Fikriadi, Edi., Nuraini and Alawi, Hamdan. 2012. The Effect of Ovaprim Doses and Latency Time on Ovulation of Sheatfish ( Ompok rhadinurus Ng). Faculty of Fishery and Marine Science. Riau University
Harder, W. 1975. Anatomy of Fihes Part II. Figures and Plates. E. Schweizerbart’sce Verlagsbuchhandlung. 132
Hoar , W. S. 1957. The Endocryne Organs. Academic Press. New York
Hulata, G. 1995. The Review of Genetic Improvement of Common Carp (Cyprinus carpio) and The Other Cyprinids By Crossbreeding, Hybridization and Selection. Special Issue. The Carp. Aquaculture 129: 143-155
Lam, T. J. 1985. Induced Spawning in Fish. Oceanic Institute and Tungkang Marine Laboratory. Taiwan
Maswardi, Ambas. 2000. Perbedaan Antara Betina dan Jantan Ikan Mas (Cyprinus carpio L) dalam Beberapa Karakter Kuantitatif. Program Studi Ilmu Perairan. Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor
Murtidjo, B. A. 2001. Beberapa Metode Pembenihan Ikan Air Tawar. Kanisius. Yogyakarta
Najmiyati, E., Lisyastusi, Esi dan Hedianto, Y. E. 2006. Biopotensi Kelenjar Hipofisis Ikan Patin (Pangasius pangasius) Setelah Penyimpanan Kering Selama 0, 1, 2, 3 dan 4 Bulan. Balai Teknologi Lingkungan. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi. Jakarta. Jurnal Teknik Lingkungan Vol.7, No.3, 311-316
Nandeesha, M.C., Kondapalli G Rao, Rama N Jayanna, Nick C Parker, T.J. Varghese, Perar Keshavanath, and Handady P.C. S. 1990. Induced Spawning of Indian Major Carps through Single Aplication of Ovaprim-C. The 2nd  Asian Fisheries Forum Society, Manila, Philippines
Susanto, H. 2001. Teknik Kawin Suntik Ikan Ekonomis. Penebar Swadaya. Jakarta
Yushinta, F. 2004. Fisiologi Ikan: Dasar Pengembangan Teknik Perikanan. Rineka cipta. Jakarta
Zairin, M. 2006. Perkembangan dan Penerapan Bioteknologi Reproduksi Dalam Bidang Perikanan Indonesia. IPB Press, Bogor.
Zairin, M. 2013. Kiat Memijahkan Ikan Hias Secara Teratur. Digreat Publishing. Bogor


Minggu, 17 November 2013

Iridovirus

Iridovirus adalah virus hewan yang menginfeksi invertebrata dan vertebrata poikilotermik, seperti ikan, insekta, amfibi, dan reptil (Williams, 1996). Iridovirus merupakan virus DNA untai ganda berbentuk simetri ikosahedral, tidak semuanya beramplop, dan mempunyai diameter 120-300 (Tidona et al., 1998). Virion iridovirus terdiri dari tiga domain konsentris yaitu protein capsid di bagian luar, membran lipid yang mengandung subunit protein di bagian tengah, dan core yang tersusun dari kompleks DNA-protein. Virus ini memiliki 25-75 protein struktural dengan kisaran berat molekul 12.000-150.000 kDa. Secara umum protein capsid iridovirus berukuran sekitar 50 kDa dan merupakan komponen struktural utama yang jumlahnya mencapai 45% dari protein virion total. Ukuran genom iridovirus bervariasi antara 105-212 kbp).

Iridovirus mempunyai strategi replikasi yang melibatkan stadium nuklear dan sitoplasmik, menghasilkan genom komplit dengan duplikasi beberapa gen di ujungnya (terminal redundancy) dan ujung tersebut berbeda diantara partikel virus yang dihasilkan (cyclic permutation). Gen penyandi protein capsid dari beberapa iridovirus vertebrata dan invertebrata telah disekuensing dan coding region nya mempunyai banyak kemiripan.

Ikan yang terinfeksi iridovirus nampak lemah, nafsu makan menurun, mengalami anemia yang berat, bercak merah (ptechiae) pada insang, pembengkakan limpa, dan ginjal. Menurut Tidona et al. (1998), kerapu malabar yang terinfeksi iridovirus menunjukkan gejala warna insang dan tubuh pucat, hilangnya keseimbangan sehingga ikan diam di dasar jaring apung dan biasanya akan mati dalam waktu satu hari setelah gejala muncul.

DAFTAR PUSTAKA

Tidona, C. A., Schnitzler, P., Kehm, R. & Darai, G. 1998. Is the major capsid protein of iridoviruses a suitable target for the study of viral evolution? Virus Genes 16, 59-66.
Williams, T. 1996. The Iridoviruses.  Advances in Virus Research 46, 345–412.


Aeromonas hydrophila

Aeromonas hydrophila


Pengobatan yang selama ini banyak dilakukan adalah dengan pemberian antibiotik. Namun, penggunaan antibiotik pada skala besar kurang efisien, karena selain tidak ekonomis, dampak yang ditimbulkannya adalah bertambahnya jenis bakteri yang resisten terhadap antibiotik dan dapat mencemari lingkungan (Mariyono dan Sundana, 2002). Salah satu cara pengobatan alternatif yang efektif adalah menggunakan fitofarmaka. Fitofarmaka merupakan obat alamiah yang berasal dari tumbuhan, bahan bakunya telah mengalami standarisasi, memenuhi syarat baku yang resmi, telah dilakukan penelitian ilmiah mengenai bahan baku serta kegunaan dan khasiatnya jelas seperti resep dokter (Anonim, 1995 dalam Sopiana, 2005).

Beberapa jenis fitofarmaka dapat dicobakan untuk pengobatan penyakit ikan, karena merupakan bahan alami yang mudah hancur serta aman dan tidak ada residu di dalam tubuh ikan sehingga ramah lingkungan. Salah satu fitofarmaka yang dapat digunakan adalah bawang putih. Bawang putih bersifat antibakteri karena salah satu komponennya, yaitu allicin merupakan komponen utama yang berperan dalam memberi aroma bawang dan merupakan salah satu zat aktif yang diduga dapat membunuh kuman-kuman penyakit (Watanabe, 2001).

Salah satu tanaman jenis herba yang berkhasiat obat adalah meniran (Phyllanthus niruri). Tanaman ini merupakan jenis tanaman obat yang dapat bermanfaat untuk mencegah berbagai macam infeksi virus dan bakteri, serta mendorong sistem kekebalan tubuh. Hal ini disebabkan oleh adanya kandungan flavonoid, alkaloid, tanin, dan vitamin C dalam meniran (Triarsari, 2009). Tanaman lain yang juga berkhasiat obat adalah bawang putih yang mengandung zat aktif alisin dan minyak atsiri. Kedua bahan tersebut diduga sebagai antibakteri untuk menekan bakteri yang merugikan sehingga juga akan memberikan peluang pertumbuhan mikroorganisme yang menguntungkan di dalam saluran pencernaan secara optimum.
Berdasarkan hasil penelitian Ayuningtyas (2009), ekstrak daun meniran 5 ppt dan bawang putih 20 ppt dapat menghambat pertumbuhan bakteri A. hydrophila pada ikan lele dumbo dengan metode injeksi.

Kitosan merupakan limbah hasil perikanan yang berasal dari kulit krustasea setelah mengalami demineralisasi, deproteinasi, dan deasetilasi. Bahan dasar kitosan ini mudah diperoleh, tersedia dalam jumlah banyak, dan belum termanfaatkan secara optimal. Kitosan sebagai polimer alami yang memiliki berat molekul yang tinggi, dan tidak beracun dapat merangsang sistem imun, mempercepat penyembuhan luka, dan bersifat antibakteri (Suptijah, 2006). Pemberian kitosan melalui penyuntikan dan perendaman dilaporkan dapat meningkatkan ketahanan Salvelinus fontinalis terhadap infeksi Aeromonas salmonicida (Anderson et al., 1994). Sedangkan Sukenda et al. (2007) melaporkan juga bahwa uji in vivo pada udang putih, Litopenaeus vannamei, menunjukkan bahwa penggunaan kitosan sebagai imunostimulan mampu meningkatkan total hemosit serta indeks fagositosis (Sukenda et al., 2007). Sehingga kitosan diharapkan mampu menjadi alternatif bahan alami dalam pencegahan penyakit Motile Aeromonad Septicaemia khususnya pada ikan lele.

DAFTAR PUSTAKA
Ayuningtyas, A.K. 2008. Efektivitas campuran meniran Phyllanthus niruri dan bawang putih Allium sativum untuk pencegahan dan pengobatan infeksi bakteri Aeromonas hydrophila pada ikan lele dumbo Clarias sp. [Skripsi]. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Sukenda, Y.T. Trianggoro, D. Wahyuningrum dan Rahman. 2007. Penggunaan kitosan untuk pengendalian infeksi vibrio harveyi pada udang putih Litopenaeus vannamei. Jurnal Akuakultur Indonesia, 6 (2): 205-209.

Suptijah, P. 2006. Deskriptif karakteristik fungsional dan aplikasi kitin kitosan. Prosiding Seminar Nasional Kitin Kitosan. Departemen Teknologi Hasil Perikanan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Anderson, D.P., A.K Siwicki. 1994. Duration of Protection Againts Aeromonas salmonicida in Brook Trout Immunostimulated with Glucan or Chitosan by Injection or Immersion. The Progressive Fish-Culturist; 56:258-261p.

Mariyono dan Sundana. 2002. Teknik pencegahan dan pengobatan penyakit bercak merah pada ikan air tawar yang disebabkan oleh bakteri Aeromonas hydrophila. Buletin Teknik Pertanian. Badan Litbang Pertanian. Jakarta. Vol. 7(1):33-36.

Sopiana, P. 2005. Efektifitas ekstrak paci-paci (Leucas lavandulaefolia) untuk pencegahan dan pengobatan penyakit MAS (Motile Aeromonad Septicaemia) pada ikan lele dumbo (Clarias sp). Skripsi. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor.
Triarsari, D. 2009. Aneka ramuan pencegah SARS. http://www.depkes.go.id/ index. php?option=articles. [11 Januari 2009]

Watanabe, T. 2001. Penyembuhan dengan terapi bawang putih. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Selasa, 01 Oktober 2013

Biosintesa

BIOSINTESA

Biosintesa sebagai salah satu kegiatan jasad hidup di dalam metabolism, berbeda dengan nutrisi, karena disini diperlukan sumber energi. Karenanya proses bioenergi dan biosintesa tidak dapat dipisahkan karena kedua-duanya merupakan kesatuan proses. Selama berlangsungnya proses bioenerji tidak hanya menghasilkan energi bagi berlangsungnya biosintesa, melainkan juga senyawa yang akan menjadi bahan dasar bagi proses biosintesa seperti gula-fosfat, asam furivat, asam asetat, asam oksalasetat, asam suksinat, dan sebagainya.

1.      Assimilasi nitrogen dan sulfat

Bahan-bahan organik yang mengandung N, P, dan S umumnya didaptkan dari sumber anorganik. Assimilasi sumber tersebut membentuk anorganik merupakan langkah awal didalam biosintesa. Pada assimilasi nitrogen misalnya dari senya anorganik (NH4+ , NO3- , N2 dan sebagainya), bisa digabung langsung dengan asam ketoglutamat yang merupakan hasil antara di dalam siklus kreb:

Asam ketoglutamat → Asam glutamat → Glutamin
Dengan adanya penambahan NH4+ maka asam alfa-ketoglutamat akan menjadi asam glutamate, dan selanjutnya akan terjadi aminasi, yaitu penambahan satu molekul NH4+ menjadi glutamine. Asam glutamat kemudian dapat memindahkan gugus aminnya ke asam alfa-keton yang lain, missal asam oksal-asetat membentuk asam amino yang lain, dan prosesnya dinamakan transaminasi

Asam glutamat → Asam oksalasetat → Asam alfa-ketoglutamat → Asam aspartat

            Banyak jenis mikrobia menggunkan nitrat sumber nitrogen tidak sebagai aseptor electron seperti yang terjadi pada respirasi anaerobik. Karenanya selama dikenal proses assimilasi nitrat dan dessimilasi nitrat, walaupun tahao awalnya sama yaitu reduksi nitrat menjadi nitrit.

            Assimilasi sulfat terjadi karena mikrobia membutuhkan sumber belerang. Tahap assimilasi terjadi dengan proses oksidasi sulfat dengan adenilasi membentuk nukleid-adenil-sulfat (APS) kemudian difosforilasi dan direduksi menjadi sulfit dan sulfide. Kegunaan belerang didalam proses ini aialah didalam sintesa asam amino yang mengandung S.

2.      Sintesa mikromolekul

Nukleotida merupakan precursor asam nukleat, terdiri dari purin basa atau pirimidin yang terikat pada ribose-fosfat. Senyawa tersebut merupakan bagian dari berbagai bentuk nukloetida, merupakan proses penting didalam sintesa nukleotida.

Pada umumnya sintesa purin dan pirimidin akan dimulai dangan aktivasi  ribose-5-fosfat, dan dengan adanya fosforolisasi menjadi fosforibossil-pirofosfat (PRPP). Di dalam sintesa nukleotidpurin senyawa ini dibentuk dari ribose-fosfat dengan deaminasi PRPP dan penambahan glisin, asam aspartat dengan menghasilkan inosin-monofosfat (IMP). Dari senyawa ini akan kemudian dibentuk adenosine monofosfat (AMF) dan guanosin monofosfat (GMP).

Di dalam sintesa ini, PRPP akan menggandakan kondensasi dengan asam orotat yang dihasilkan oleh reaksi seri dengan menghasilkan uridilat monofosfat (UMP) dan sesidin monofosfat (CMP).

SUMBER :

Suriawiria, Unus. 2008. Mikrobiologi Air. Alumni. Bandung